guru yang penulis

Guru yang mengemban tugas mulia serta misi pendidik, sudah seharusnya menjadikan aktivitas menulis menjadi aktivitas rutin. Menulis merupakan cara untuk mengikat ide dan gagasan, sarana transmisi ilmu, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan serta kebenaran.
Kita menyadari kemampuan menulis dikalangan guru masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena lemahnya semangat dalam belajar dan mengajar. Tidak memiliki pemikiran yang progresif dan rendahnya budaya akademisi dikalangan pendidik.
Realitas inilah yang selayaknya membuka mata dan membangkitkan kesadaran bagi guru dan dosen sebagai insan akademisi untuk terus meningkatkan kemampuan dan kapasitas untuk menuangkan ide dan gagasannya melalui tulisan.

Mengutip perkataan Imam Ghozali, kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis. Dengan menulis kita bisa mencerdaskan berjuta-juta manusia tanpa batas. Jadi, bukan hanya sekedar motivasi material-an sich atau motivasi kenaikan pangkat saja para guru dan dosen berlomba-lomba meningkatkan kapabilitas serta kemampuan menulisnya. Tetapi lebih pada panggilan jiwa untuk terus menyumbangkan saran dan gagasan serta ide positif bagi kemajuan peradaban bangsa.
Membaca dan menulis adalah tradisi para ilmuwan dan guru merupakan seorang Ilmuwan yang tak boleh lepas dari tradisinya. Pekerjaan menulis merupakan pekerjaan orang-orang besar yang memiliki cita-cita besar pula. Menulis berarti memberikan suluh harapan yang akan menerangi dunia dengan ide-ide yang mencerahkan.

Apalagi, kini sejumlah media cetak memiliki sisipan rubrik khusus guru, seperti Akademia di Republika. Para guru memiliki ruang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan pendapat tentang hal-hal dialaminya seputar pendidikan.

Pemuatan karya guru di media publik dapat menjadi umpan-balik yang amat positif bagi pribadi guru dalam membangun rasa percaya diri, memiliki kebanggaan dan kepuasan, menjadi pribadi terbuka, dan kesiapan menerima kritik atau pujian.

Pengaruh positif lainnya, mampu memotivasi untuk menghasilkan karya lebih baik lagi, bersifat kritis, dan bersiap diri memperkuat diri menghadapi tantangan. Karena untuk membuat suatu tulisan yang berkualitas dibutuhkan data penunjang. Hal ini akan mendorong untuk terus mencari, menambah pengetahuan dan wawasan, serta senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi.

Oleh karena itu, membaca akan menjadi kebiasaan paling mendasar yang dimiliki para penulis agar kelak menjadi penulis berkualitas. Selanjutnya, berpikir adalah suatu proses menghubungkan data, fakta, atau konsep dari hasil kegiatan membaca. Dari hasil proses berpikir ini akan dihasilkan sintesis-sintesis baru sebagai produk berpikir orisinal dalam bentuk tulisan.

Guru yang sering menulis tidak hanya kaya akan pengetahuan dan berwawasan luas, tetapi juga akan lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya. Kepekaan terbentuk karena mereka terbiasa menajamkan mata dan telinga untuk menyimak dan menelisik segala peristiwa yang ada di sekitarnya.

Meskipun dengan menulis membentuk sikap kritis, penulis tidak boleh menghakimi atau berpandangan negatif dalam menanggapi sesuatu. Penulis dituntut untuk meneliti apa yang ada di balik suatu kejadian, menguraikannya, dan menuliskannya secara sistematis.

Proses ini mendorong seorang penulis terbiasa berpikir positif. Proses menulis dapat pula melahirkan jiwa struggle dan kompetitif. Sikap itu diperlihatkan agar tulisannya menjadi layak muat, terus berusaha tahan uji, serta tidak lekas bosan atau menyerah.

Guru merupakan bagian komunitas cendekia yang dinantikan kreativitas dan hasil pemikiran-pemikirannya yang inovatif dan memberi pencerahan bagi masyarakat. Untuk menyosialisasikan, menguji, dan mendapat pengakuan masyarakat, hasil penelitian dan pemikiran tersebut harus dibubuhkan dalam bentuk tulisan.

Kesenangan kegembiraaan seorang penulis baru kurasakan baru – baru ini. Setelah aku sendiri yakin tulisanku cukup bagus untuk dipublish, dan aku merasa teman – teman akan menyukainya… itulah kebahagian seorang penulis ! Ketika pembaca menyukai tulisan kita, lebih jauh lagi mendapat banyak manfaaat, semangat bahkan terinspirasi oleh tulisan kita… kerenkaaaaan ? xixix : )
Baru kusadari menulis itu mengasyikkan ..
Kecanduan menulis ini tentunya butuh obat.. ibarat orang yang terkena addicted menulis , ia butuh tempat rehab… salah satunya ya di blog ini.. oh ya menulis juga sebenarnya salah satu ekpresi orang galau whahahah : ) dari pada galau mau curhat ga ada orang mending nulis seperti kata asma nadia
“ Kegiatan menulis sebagai sebuah terapi, juga cara untuk mengekspresikan kerumitan hidup yang dihadapi “

Bener banget tuh, ternyata setelah kita baca – baca lagi tulisan kita pada saat galau, jadi lucu sendiri, ngakak sendiri… : )
Juga sebagai sarana instropeksi juga muhasabah, contohnya kita pernah nulis nyesel banget udah melakukan kesalahan, makanya setelah dibaca lagi jadi keingetan dan ga bakal deh mengulangi kesalahan yanga sama untuk kedua kalinya.
Penulis juga sejatinya adalah observer ulung. Ia pemerhati handal, banyak mendengar, melihat dengan mata hati. Sesungguhnya ia silent rider di dunia nyata :). Dengan banyak memerhatikan orang lain, lingkungan, dan berbagai kejadian itulah, yang dijadikan sumbernya dalam belajar, menulis dan lebih jauh mengikuti jejak sukses subjek perhatianya. Ibarat secret admirer yang diam – diam memerhatikan seseorang, ia tidak boleh ketahuan, hehe :0 harus seperti detektif yang ahli_ kebanyakan nonton Sherlock holmes dan baca Conan nichh hehe.
Lalu ide menulis di dapat dari mana ?
Ya pengalaman sehari – hari. Bisa pengalaman lucu atau pengalaman mengesankan yang di terjadi hari itu. Kejadian unik, lucu yang jarang terjadi. Bahkan dari sebuah diskusi ringan bisa dijadikan bahan tulisan. Mengobrol dengan Ibu, kakak, sahabat, murid, rekan guru, karyawan sampe tukang ojek, bisa muncul tuh ide tulisan.
Tuk tak tik tok. Kalau ide buntu, macet, mampet lalu bagaimana ? mulailah cari ide – lain. Bisa dari baca buku, koran, majalah, nonton film, nonton debat, nonton bola : )
Kalau saya hobby bangeeet : ) mulai dari baca sampai nonton bakal dijabanin. Pergi ke book fair ayo, ke bioskop yuk mariii . Dari mulai nonton infotainment yang ringan sampe nonton Jakarta lawyers club yang agak – agak gimana gitu.
Bagaimana dengan jejaring social ? wah itu jadi ritual rutin yang harus dijalani. Minimal sehari tiga kali kaya minum obat, harus ngecek facebook, twitter, blog, kompas.com, google. Berasa aneh kalau seharian ga buka fb dan teman – temannya itu. Seperti kehilangan gairah dan ‘buta’ informasi. # halahgubrak.
Face book itu macam – macam gunanya. Selain sebagai catatan perjalanan hidup kita, sampe yang lebih serius bisa dijadiin portofolio diri kita. Nah, bagi orang yang suka nulis kaya saya, penting banget tuh sebagai sarana promo tulisan. Bisa dapet tanggapan pembaca langsung, bahkan dapet editor gratisan hehe, yang suka memberi masukan agar tulisan kita bisa lebih baik lagi.
Yang membuat saya tergerak untuk menulis lebih jauh, juga sebuah ‘ sindiran’ halus dari my favorite writer, Tere Liye yang bilang gini
Jika rata – rata setiap tweet itu adalah 12 kata, maka bagi yang telah nge-tweet 50.000 kata di twitter, maka itu setara dengan 600.000 kata. Nah, kalian mau tahu tebal novel ‘hafalan shalat Delisa’? hanya 46.000 kata. itu artinya, setara kurang lebih 13 novel delisa. menakjubkan– apalagi usia twitter baru beberapa tahun, usia yang bersangkutan bergabung twitter baru 1-2 tahun. Prestasi hebat sekali loh, menulis 600.000 kata.
Tetapi kemana lari – larinya kata itu? aduh, sayangnya, hanya menguap di dunia maya. hilang bersama pulsa. Saya harus mengingatkan, selalu pahami, 100x update status, komen, dan kicauan – kicauan, debat di forum – forum, dan lain – lain itu tidak bisa mengalahkan berharganya satu notes/artikel yang ditulis dengan baik.
Maka mulailah ! Tulis apa saja. apa yg kalian lihat, dengar.

Yuk mulai menulis.. mulai saja dari hal – hal ringan seputar kejadian di ajib tercinta 🙂
* dikutip dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s